Langsung ke konten utama

PEKERJAANMU SAAT INI, SURGA NERAKAMU SAAT NANTI

Ikhwan fillah yang disayangi Allah. Sudah sewajarnya bila manusia itu bekerja. Sudah semestinya jika rezeki yang Allah sediakan, kita sambut dengan ikhtiar di jalanNya yang Halal. Sebuah Jalan, dimana keberkahan dan Ridho Allah menanti kita. Karena sungguh, keberkahan dan Ridho Allah inilah tujuan utama kita bekerja. Sedangkan Rezeki, hakikatnya adalah sesuatu yang telah Allah takar dan pasti akan kita dapatkan.


Hanya saja, seringkali besarnya penghasilan lebih menjadi harapan, dibandingkan keberkahan dan Ridho Allah yang memang tidak selalu sejalan dengan banyaknya uang. Oleh karenanya, dunia bagi seorang muslim sejati bukanlah sebuah tujuan, melainkan cara (wasilah) untuk menggapai tujuan yang utama (Ridho Allah SWT). Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an :


"Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka, dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kalian memahaminya?" (QS. Al An'am:32)

Saudaraku, sungguh bukan penghasilan yang bisa membahagiakan kita, bukan besarnya nominal yang menenangkan kehidupan kita. Bahagia dan tenang, salah satunya datang dari keberkahan yang ada dalam pekerjaan kita. Coba perhatikan, berapa banyak orang kaya disekitar kita yang hidup layaknya burung dalam sangkar emas? Semakin banyak harta, justru semakin terampas segala kebebasan dan keyakinan yang ia punya.

Semakin banyak uang, semakin banyak keinginan yang harus diikuti tanpa tahu kapan berakhirnya. Semua orang mati-matian berusaha "menguasai" dunia. Namun alih-alih mendapatkannya, dunia justru beristana di hati mereka.

Rasul Muhammad SAW bersabda : "Barang siapa yang bangun di pagi hari dan hanya dunia yang dipikirkannya, sehingga seolah-olah ia tidak melihat hak Allah dalam dirinya maka Allah akan menanamkan 4 penyakit dalam dirinya  : Kebingungan yang tiada putus-putusnya, kesibukan yang tidak pernah ada ujungnya, kebutuhan yang tidak pernah terpenuhi, keinginan yang tidak akan tercapai." (HR. Imam Thabrani)

Ikhwan fillah, mari kita renungkan bersama kehidupan kita ini. Benarkah kita sedang bekerja untuk hidup? Atau justru hidup untuk bekerja? Tentu tidak ada yang salah dengan kekayaan. Kaya itu boleh di dalam Islam. Hanya perlu kita pahami bahwa kekayaan adalah amanah, yang kelak di akhirat akan datang dua pertanyaan besar atasnya : "darimana engkau dapatkan? dan untuk apa engkau belanjakan?".

"Tidak akan bergeser tapak kaki seseorang hamba pada hari Kiamat, sampai ia ditanya tentang empat perkara. (Yaitu): tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang jasadnya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya darimana ia mendapatkannya dan kemanakah ia meletakkannya, dan tentang ilmunya, apakah yang telah ia amalkan". (HR. At-Tirmidzi)

Siapkah kita menjawabnya? Siapkah kita mempertanggungjawabkan setiap rupiah yang kita dapatkan? Ridhokah Allah atasnya? Semua tergantung nilai keberkahan di dalam pekerjaan kita. Keberkahan dalam mencarinya, dan memanfaatkanya. Maka seberapa berkahkah pekerjaan kita saat ini?



Nilai Keberkahan Suatu Pekerjaan
Sering kita mengartikan keberkahan sebagai sesuatu yang melimpah ruah. Rezeki yang berkah, sering dimaknai sebagai rezeki yang banyak lagi melimpah. Tentu ini adalah pemahaman yang keliru, karena jika ini dibenarkan maka cara mencari rezeki tidak lagi utama, yang utama adalah banyaknya rezeki bagaimanapun cara mendapatkannya. Dan jika ini dibenarkan, maka kita akan berkata bahwa mereka yang kekurangan rezeki adalah mereka yang kurang berkah hidupnya. Subhanallah, benarkah demikian? Tentu saja tidak.

Dalam Syarah Shahih Muslim karya Imam An-Nawawi disebutkan, berkah memiliki dua arti :
  1. tumbuh, berkembang, atau bertambah
  2. kebaikan yang berkesinambungan

Menurut Imam Ghazali, kata "berkah" memiliki makna ziyadatul khair, yakni "bertambahnya kebaikan" (Imam Ghazali, Ensikolopedia Tasawuf, hlm 79). Dari sini kita memahami bahwa berkah itu identik dengan seberapa banyak kebaikan dan manfaat yang muncu. Maka semakin berkah sebuah pekerjaan maka semakin baik dan bermanfaatlah orang yang bekerja. Lalu apakah yang dimaksud baik? Allah SWT berfirman :


"Jikalau sekirannya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya". (QS. Al-A'raaf 7:96)

Ternyata makna kebaikan yang dimaksud adalah berupa keimanan dan ketakwaan.

Maka kesimpulannya : Pekerjaan yang berkah adalah pekerjaan yang mampu membuat pelakunya jauh lebih beriman, lebih bertakwa dan juga lebih bermanfaat kepada orang lain daripada sebelumnya. Rasulullah bersabda : "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (lainnya)". (HR. Ahmad).


Parameter Pekerjaan yang Berkah
Saudaraku, lima point pertanyaan berikut ini Insya Allah bisa membantu kita untuk menilai berkah tidaknya pekerjaan kita saat ini. Tanyakan dan jawablah sejujur mungkin :

1. Halalkan jenis pekerjaan kita saat ini?

Rasulullah bersabda : "Mencari yang halal adalah hukumnya wajib atas setiap muslim". (HR. Thabrani). Maka apakah pekerjaan kita saat ini terkait Riba? Mayshir? Gharar? Apakah yang diperjualbelikan adalah sesuatu yang haram? Ada baiknya segera tanyakan beberapa point di atas kepada Ulama yang menguasai fiqh muamalah maliyah (Aturan Islam terkait perniagaan).

2. Halalkah cara bekerja kita saat ini?

Inilah salah satu hebatnya Islam. Islam mengatur bukan hanya apa yang dijual namun juga bagaimana menjualnya. Menipukah kita? Menyuapkah kita? Disiplinkah kita? Mungkin secara langsung kita tidak bermaksiat dalam bekerja, namun di banyak kasus, banyak muslimin yang terpaksa berbuat dosa karena atasan, atau aturan perusahaan yang mengikat. Maka inipun wajib kita pertimbangkan masak-masak saudaraku. Bukankah sejatinya keberkahan dan Ridho Allah lah yang kita cari?

Semoga, kita tidak termasuk golongan orang yang Rasul sabdakan dalam hadistnya yang shahih berikut ini : "Akan datang suatu masa pada umat manusia, mereka tidak lagi peduli dengan cara untuk mendapatkan harta, apakah melalui cara yang halal ataukah dengan cara yang haram". (HR. Bukhari). Naudzubillah.

3. Terjagakah Ibadah Kita Saat ini?

Apa yang kita jualbelikan sudah halal, cara berusahanya pun halal, namun kesibukan kerja yang menggila, malah membuat ibadah kita keteteran. Inipun salah satu alasan tidak berkahnya sebuah pekerjaan. Saat kemacetan mampu kita lewati, tumpukan pekerjaan siap kita hadapi, ocehan atasan ikhlas kita nikmati, namun masjid tak pernah di singgahi, walupun seminggu satu kali. Jika semacam ini, lalu keberkahaan macam apa yang hendak kita cari?

Ikhwan fillah, yakinlah bahwa dengan baiknya ibadah kita, maka urusan rezeki kitapun aka dipermudah. Allah SWT berfirman :

"Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu mau menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu". (QS. Muhammad 47:7)

4. Bermanfaatkah rezeki yang kita peroleh?

Pekerjaan yang tidak berkah sering membuat kita masuk ke dalam lingkungan dan pergaulan yang buruk. Lingkungan yang memaksa kita untuk hidup hedonis, dan konsumtif. Apa yang dibelipun seringkali tabdzir (sia-sia), atau bahkan justru terjebak menghamburkan uang di jalan yang haram seperti : minum-minuman keras, pesta malam, seks, dsb. Naudzubillah.

Maka tidak heran, jika besarnya penghasilan terkadang habis begitu saja dan malah membuat diri ini terjebak untuk terus mencari uang, uang, dan uang. Rasulullah bersabda :

"Sesungguhnya masing-masing umat itu ada fitnahnya dan fitnah bagi umatku adalah harta". (HR. Ahmad, Tirmidzi)

5. Sudahkan Diri ini Beriman dan Bertaqwa?

Sebaik apapun pekerjaan kita, kesibukan bekerja tidak boleh membuat diri ini lupa akan tujuan hidup kita yang utama. Allah berfirman :

"Tidaklah Aku menciptakan Jin dan Manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaKu". (QS. Adz-Dzaariyat 51:56).

Maka penting kita pahami, bahwa bekerja bukanlah tujuan dalam hidup seorang muslim. Bekerja merupakan cara (wasilah) dalam menggapai tujuan hidup yang sesungguhnya (Ridho Allah), lewat ibadah yang Ia perintahkan.

Ikhwah, itulah sekelumit pesan yang Insya Allah senantiasa menjadikan kehidupan kita penuh berkah, hidayah, dan inayahNya. Selamat dan semangat bekerja di jalan yang halal!

Karena Rasulullah SAW bersabda :

"Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya lagi ahli (kafaah). Barangsiapa bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza wa Jalla". (HR. Ahmad)


Sumber : Buletin Fastabiqul Khairat

Komentar

Postingan populer dari blog ini

UJIAN SARANA PENGANGKATAN DERAJAT

 

AWAS JEBAKAN CLICKJACKING MENYASAR KE PENGGUNA FACEBOOK

Jakarta, CHIP.co.id - Trend Micro baru saja menemukan adanya clickjacking yang menyasar ke dalam pengguna facebook di beberapa negara termasuk Indonesia. Salah satu jebakan clickjacking yang ditemukan, berupa tiket gratis menjelang premier-nya film box office dunia Twilight Saga: Breaking Dawn Part 2, yang dinantikan oleh jutaan fans di seluruh dunia. Sebuah foto yang memajang sosok Robert Pattinson dan Kristen Stewart, dua pemeran utama film tersebut, dijadikan sebagai ‘alat pancingan’ berikut dengan linknya dan disebarkan lewat Facebook. Dengan mengusung judul “Get A Free Tickets to Twilight Breaking Dawn Part 2!”, pengguna Facebook disarankan agar tidak meng-klik dan percaya begitu saja dengan tawaran tiket gratis premier dunia Twilight Saga. Jika pengguna mengklik tombol “Share Link” maka postingan tersebut otomatis akan di-share di wall pengguna agar menjaring lebih banyak korban. Nah, jika gambar atau teks diklik, maka pengguna akan diarahkan ke sebuah halaman survei u...

JENIS LISENSI PERANGKAT LUNAK

Dalam dunia teknologi informasi, perangkat lunak memainkan peran penting dalam berbagai aspek kehidupan kita, mulai dari pekerjaan hingga hiburan. Namun, tidak semua perangkat lunak diciptakan sama. Salah satu aspek penting yang membedakan perangkat lunak adalah jenis lisensinya. Lisensi perangkat lunak menentukan bagaimana perangkat lunak tersebut dapat digunakan, didistribusikan, dan dimodifikasi oleh pengguna. Dalam artikel ini, kita akan membahas berbagai jenis lisensi perangkat lunak yang umum digunakan dan apa yang membedakannya satu sama lain. 1. Lisensi Proprietary (Hak Milik) Lisensi proprietary adalah jenis lisensi di mana perangkat lunak dimiliki oleh individu atau perusahaan yang memiliki hak eksklusif untuk mendistribusikan dan mengubah perangkat lunak tersebut. Pengguna harus membeli lisensi untuk menggunakan perangkat lunak ini, dan biasanya tidak diizinkan untuk melihat atau memodifikasi kode sumbernya. Contoh perangkat lunak dengan lisensi proprietary adalah Microsoft ...